tita

Archive for the ‘Learning Path’ Category

Pengendalian Infeksi Ebola

In Learning Path on October 3, 2014 at 11:01 am

Bulan September 2014 lalu, WHO telah merilis panduan infeksi untuk Ebola yang dapat diunduh di sini (versi lengkap) dan di sini (versi ringkasan) – keduanya dalam Bahasa Inggris. Secara ringkas, berikut ini adalah poin-poin kunci dari panduan tersebut:

1.       Penerapan kewaspadaan standar pada semua pasien terlepas dari gejala dan tanda yang ada;

2.       Isolasi pasien suspek atau konfirmasi Ebola dalam ruangan tersendiri (single bed) atau jika tidak memungkinkan bisa di kohort dengan pasien diagnosis yang sama. Tidak boleh mencampurkan pasien suspek dan konfirmasi di dalam satu kamar/ruangan. Pastikan aksesnya aman dan terbatas hanya untuk yang berkepentingan serta tersedianya alat-alat yang memadai khusus untuk pasien yang dirawat tersebut;

3.       Perlu penunjukkan petugas khusus (terlatih) untuk penanganan kasus Ebola dengan tugas-tugas yang sudah dirincikan dengan baik;

4.       Pastikan semua petugas atau pengunjung memakai APD yang lengkap saat memasuki ruangan dan melakukan kebersihan tangan (hand hygiene) secara teratur sesuai ‘five moments’ dari WHO. Adapun APD yang digunakan adalah minimal: sarung tangan, gaun, boot atau sepatu tertutup dilapis dengan shoe cover, masker, dan penutup mata (google atau face shield) untuk melindungi dari cipratan. Selalu lakukan ‘risk assessment’ untuk menentukan APD yang akan digunakan. (Tambahan: Beberapa rekan ahli menyarankan face shield karena lebih dapat memberikan perlindungan dari percikan terhadap wajah dibandingkan dengan google yang hanya menutup bagian mata dan terkadang berembun sehingga kesulitan untuk melihat);

5.       Pastikan suntikan dan prosedur phlebotomy dilakukan dengan aman serta management limbah tajam. Limbah tajam ditempatkan pada kontainer khusus yang tahan tusukan;

6.       Pastikan dilakukan pembersihan lingkungan yang potensial tercemar dengan baik, lakukan dekontaminasi pada permukaan alat yang dipakai, penanganan linen kotor serta sampah/limbah yang ada. Dalam proses ini, pastikan petugas yang melakukan kegiatan tersebut juga terlindungi dan menggunakan APD yang sesuai dan melakukan hand hygiene secara teratur;

7.       Pastikan pengelolaan sampel di laboratorium dilakukan dengan aman;

8.       Pastikan pengelolaan mayat dilakukan dengan prinsip pengendalian infeksi yang ketat sampai dengan pemakaman;

9.       Lakukan evaluasi segera atau perawatan dan jika diperlukan dilakukan isolasi pada petugas kesehatan atau seseorang yang terpajan dengan darah atau cairan tubuh dari pasien suspek atau konfirmasi Ebola.

Mengenal Laporan Rutin Rumah Sakit Part 2

In Learning Path on August 13, 2012 at 2:38 pm

Berikut ini adalah jenis-jenis laporan rutin rumah sakit dari post sebelumnya mengenai Laporan Rutin Rumah Sakit.

RL1 Data Kegiatan Rumah Sakit

Format ini mencakup data kegiatan rumah sakit mulai dari kegiatan pelayanan umum sampai dengan sub-spesialistik (jika ada), mulai dari rawat jalan sampai dengan rawat inap, mulai dari keluarga berencana sampai dengan kegiatan rujukan, dan lain-lain.

RL2 Data Keadaan Morbiditas Pasien

Format ini berisi kompilasi penyakit/morbiditas pasien baik rawat inap (RL2a) maupun rawat jalan (RL2b). Sampai saat ini kompilasi tersebut dikodekan dengan menggunakan kode DTD KIP/10 (Data Tabulasi Dasar), bukan ICD-10. Pada format ini juga terdapat laporan pasien yang keluar dari rumah sakit baik hidup maupun meninggal.

RL3 Data Dasar Rumah Sakit

Format ini memuat identitas rumah sakit mulai dari lokasi, perijinan, kepemilikan, sampai dengan fasilitas yang dimiliki.

RL4 Data Ketenagaan Rumah Sakit

Format ini berisi data mengenai tenaga baik kesehatan maupun non kesehatan yang bekerja di rumah sakit, dilengkapi dengan data strata pendidikan dan status kepegawaian.

RL5 Data Peralatan Medik dan Kegiatan Kesehatan Lingkungan

Di dalam format ini terdapat jumlah dan jenis peralatan medik beserta identitas alat medik yang ada, juga data mengenai kegiatan rumah sakit yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan.

RL6 Data Infeksi Nosokomial

Format ini memuat rekapitulasi data mengenai infeksi nosokomial di rumah sakit (infeksi yang terjadi karena perawatan atau tindakan di rumah sakit).

Ada beberapa aspek tentang laporan rutin rumah sakit yang menarik untuk dibahas juga, di antaranya manfaat laporan rutin rumah sakit, perbedaan laporan rutin rumah sakit di Indonesia dan negara lain, dan masalah yang sering terjadi dalam pelaporan rutin rumah sakit, dan lain-lain. Tunggu post saya yang berikutnya ya :)

Mengenal Laporan Rutin Rumah Sakit Part 1

In Learning Path on March 19, 2010 at 5:57 pm

Kalau laporan rutin Puskesmas namanya LB (atau saya coba terjemahkan Laporan Bulanan), laporan rutin RS namanya RL (yang saya coba terjemahkan Rutin Laporan? Rumahsakit Laporan?). Hehe, apapun kepanjangannya, saya akan mencoba menceritakan tentang laporan rutin rumah sakit dalam beberapa bagian, dan post ini adalah bagian pertama yaitu berkenalan dengan laporan rutin rumah sakit.

Buat teman-teman klinisi (dokter, perawat, ahli gizi dan juga teman2 non klinisi yang di rumah sakit), terutama yang di rumah sakit saya berharap post ini (dan post2 yang baru berencana saya tulis) bisa memberikan gambaran tentang bagaimana rekam medis/register yang teman2 isi diproses atau ke mana rekam medis/register yang teman2 buat pergi. Post-post berikutnya akan saling melengkapi post ini. Intermezzo saja, post ini sudah saya mulai tulis bulan Maret tahun 2010, dan baru saya publish bulan Januari 2012. Hahaha…

Mari kita mulai :)

Menurut Kepmenkes No.1410/MENKES/SK/X/2003, ada beberapa jenis laporan rutin rumah sakit, yaitu :

Untuk detail masing-masing laporan tersebut, lihat bagian bawah.

Lalu, ke mana rumah sakit perlu melaporkan RL-RL tersebut?

RS dibagi menjadi :

  • RS pemerintah (yang dinaungi Depkes atau Pemda
  • RS TNI, RS POLRI, RS yang dinaungi Departemen lain
  • RS BUMN
  • RS swasta

Semua RS melaporkan ke Ditjen Yanmed, Dinkesprop, dan Dinkes Kabupaten/Kota. Sedangkan RS TNI, POLRI, Departemen lain, BUMN dan Swasta juga harus melaporkan ke instansi yang menaunginya. Lebih jelasnya perhatikan skema berikut:

bersambung ke Mengenal Laporan Rutin Rumah Sakit Part 2…

Ayo Manfaatkan HealthMapper: Aplikasi Pemetaan Gratis

In Learning Path on January 25, 2010 at 1:29 pm

Apakah Anda bekerja di Dinas Kesehatan atau Puskesmas dan sedang menggambar peta cakupan pelayanan kesehatan di daerah Anda? Ataukah Anda seorang mahasiswa yang sedang pusing memetakan kasus karya ilmiah Anda yang rumit dengan ArcView atau ArcGIS?

Saya mengajak Anda untuk menggunakan HealthMapper :D

Aplikasi pemetaan kesehatan dari WHO, HealthMapper, sudah rilis sejak beberapa tahun lalu, tapi minggu lalu, saya browsing jurnal di PubMed dan BMC, ternyata jurnal yang ditulis dengan kata kunci “HealthMapper” masih bisa dihitung dengan jari. Setelah saya baca kedelapan jurnal itu, ternyata hanya satu yang betul-betul menggunakan HealthMapper dalam studinya.

Sayang sekali…

Padahal HealthMapper ini gratis lho, bisa didownload di situs WHO Internasional. Sudah ada built-in map dan built-in data nya pula, dengan kata lain, udah ada peta Indonesia di dalemnya, udah ada beberapa data juga di dalamnya (walaupun data tahun 2000, tapi kan tugas buat meng-update data dan peta itu kan bukan tugas WHO, tapi tugas yang punya Negara, masa nggak malu negaranya nggak update?). Selain itu, HealthMapper ini jauh lebih mudah dan sederhana dibandingkan ArcView dan ArcGIS.

Buat Anda yang tertarik mencoba, mungkin sekilas ulasan saya dan teman-teman fasilitator pelatihan HealthMapper di Wisma Makara Depok yang saya ikuti tahun 2009 kemarin ini dapat membantu (catatan, HealthMapper yang kami ulas adalah versi 4.3.5):

  1. HealthMapper gratis dan sederhana
  2. HealthMapper adalah aplikasi stand-alone, sehingga untuk sharing dan integrasi data baik dari kabupaten/kota ke provinsi ke tingkat nasional dan sebaliknya dibutuhkan secara manual memasukkan data melalui database HealthMapper (tidak bisa langsung, tapi mudah kok…). Kalau mau, bisa kontak saya (gayanyaaa hahaha, siapa tau saya bisa bantu).
  3. HealthMapper paling kompatibel dengan Windows XP (butuh special handling untuk Windows Vista) dengan dukungan Microsoft Office 2003 (butuh special handling juga untuk Microsoft Office 2007). HealthMapper tidak bisa dijalankan di Linux karena membutuhkan ActiveX.

Saat ini beberapa rekomendasi dari kami seperti pembuatan modul versi bahasa Indonesia dan pembuatan FAQ dan Troubleshooting saat ini sedang diwujudkan bersama-sama oleh Anis Fuad, Ari Handoko dan saya (saya nya kecil aja), atas prakarsa dari Subdit Bayi Depkes.

Bagaimana? Mulai terpikir untuk menggunakan HealthMapper?

Tunggu kabar dari saya selanjutnya ya!

XOXO ;)

Acknowledgement: Ari Handoko and Martya Rahmaniati for their kind cooperation. Boleh lho kalo mau nambahin mbak mas :P