Meninggalkan Anak ke Luar Negeri untuk Sekolah

“Udah ada yang bilang kamu mama tega belum?”

Pertanyaan ini so on point! Hahaha.. Seorang temen yang juga career mom, barusan menyelesaikan S3nya di luar negeri meninggalkan anak di Indonesia menanyakan ini ke aku. Thus, I accepted it as a precaution, that one day, I might hear that, probably in different way.

Sebagai ibu bekerja (dan sekolah) yang dulu pernah stay at home juga, aku bener-bener against ‘ngatain’ mama-mama lain dan pilihan-pilihan mereka (or even unmarried women and childless couples). Dulu sebagai ibu baru, I blindly minded what people said about breastfeeding vs formula milk, gula garam, gadget, bekerja vs stay at home, dan sebagainya. Tapi ternyata itu cuma bikin stres doang dan nggak esensial (menurut aku). Sedihnya lagi, pressure seperti itu justru sering datang dari sesama ibu yang menurutku harusnya saling support, bukan saling judge, hehe… (nah loh kemana2 deh tit).

Balik tentang bekerja dan stay at home ya, duh, nggak ada yang lebih baik dari lainnya. Dua-duanya punya kesulitan dan tantangan sendiri, punya keasikan tersendiri, dan cocok untuk jenis ibu yang berbeda. I didn’t know what I would do if I needed to stay at home most of my time being a caregiver instead of a breadwinner. Seperti halnya beberapa temen, bilang milih buat ngurusin anak di rumah, usaha kecil-kecilan crafting, jual kosmetik, masak, atau apa (banyak yang sukses juga, dan dulu aku juga jual lipen dan bikin ilustrasi lhoo miapah), daripada harus baca jurnal seabrek kaya aku.

And now that I’m going to leave my son for months?

That. Would. Be…. Depressingggggg!!!! [insert emot nangis ketawa disini yah]

Dikirain kalau aku udah kerja tiap hari, kadang pergi 3 hari, seminggu gitu, terus bisa ninggal anak beberapa bulan dengan shantay? Hahahahahahaha (ketawa ketawa sendiri sambil nangis).

I have no idea what I will feel, what I will do technically when I miss my darling son I carried in my womb for 9 months and took care of by myself for years — nah nah mulai drama… hahahah. FYI I was a housewife without helper/nanny/babysitter, sampai anakku umur hampir 2 taun kali ya. As a consequence, berbagai serangan panik dan stres kaya tension type headache, gastritis dan sebagainya mulai sering muncul :))

Honestly, the feeling is overwhelming. I have been dreaming of studying (lebih tepatnya living) abroad since 2008. That’s 10 years of ups and downs, hard works, prayers, tears, strong head, and wild (sometimes blind) supports from my family and colleagues (you know who you are). Bayangin dong betapa aku menginginkan ini dan excited, finally I have a Norwegian residence permit, guiseee! Nyaaahhahahaha… *bipolar :))

Skip skip… Jadi so far, the things I do to ease the feeling (just few days before I leave) adalah:

Minta perlindungan dari Tuhan buat anakku

Super cliché ya sis, especially because I’m not a super religious person. Tapi karena aku a believer, jadi ini sangat menolong. Dengan minta tolong Tuhan, rasanya aku udah menyerahkan perlindungan, keselamatan, dan kesehatan anakku ke The Ultimate. Besides, ada kalimat yang menguatkan aku banget:

Do not fear, for I am with you. Do not be dismayed, for I am your God.

When I plan to be scared, worried, or panic, aku berusaha mengingat itu. Dan percaya bahwa anakku, keluargaku, dan aku akan baik-baik saja soalnya semua sudah diserahkan ke Tuhan… :’)

Resisting the urge to prepare, control, and monitor everything

As a ENTJ choleric melancholic (and sanguine – mixed abis), alias tukang ngatur, tadinya aku mau laptop disiapin di rumah, selalu connected ke Skype biar kapanpun aku bisa nelpon anakku. Tapi pelan-pelan, aku mulai santai. Yaudah, nanti bisa Whatsapp call, kapan anakku melek, pas aku juga nggak harus belajar atau kuliah.

Emakku juga bilang, anakku ntar bisa liat video-video sama aku kalo pas kangen sama aku. Lagipula yang lebih kangen dan worried itu biasanya ibunya, daripada anaknya. Trus aku nginget-inget jaman ditinggal emak KKN dan coaching jaman beliau kuliah dulu, kangen sihhh, nangis juga, tapi manageable (atau lupa yah akoh). Selain itu, buktinya semalem abis jalan-jalan sama emakku, beliau meluk aku sambil berkaca-kaca T_T Maak, aku cuma pergi beberapa bulan maak…

Once a baby, you will always be a baby for your mommy

Balik ke anakku lagi, hehe… Yang penting hal-hal penting yang sifatnya safety dan health sudah disiapin dan disampein ke orang-orang di rumah dan di sekolah. Sisanya, balik ke Yang Maha Segalanya. *ngetik sambil menghela nafas*

Enjoying the time as if I’m not leaving

Ok, not really. Karena aku takutttt bggtttt sebenernyaaaa mau pergiiii. Jadi pasti manifest sih itu… aku mulai memberikan waktu lebih banyak dan intens ke anakku, mengurangi megang gadget pas sama anakku, mengurangi ngomel (mouth, can you just shut up?), dan lebih banyak meluk dan nyium anakku. Tapi aku berusaha untuk menikmati waktu sebagaimana adanya. Ketika aku harus kerja, ya aku kerja serius. Ketika aku harus ke mall (seriously, warmer mana warmer? udah 7 taun gak nginjek Eropa cuy). Ketika aku sama temen, ya aku have fun, mom needs a friend or two, too, aight? Dan ketika aku sama anakku, ya quality time.

Terus…

Balik ke pertanyaan temenku di atas tadi. Kalo sampe ada yang bilang aku mama tega, what would I do?

Basically give zero sh*t. Muhahahah…

-lambaikan laptop isi Mendeley dan thousands of downloaded papers

Advertisements

2 thoughts on “Meninggalkan Anak ke Luar Negeri untuk Sekolah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s